Capain Pendidikan Indonesia Menurun karena Pembelajaran di Rumah
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten, Jawa Barat, menyampaikan tujuh poin penting terkait sektor untuk menjadi perhatian pemerintah setempat.
"MUI kabupaten juga sudah menyampaikan kepada Pemkab. Mudah-mudahan kita bisa mendapatkan pencerahan agar slot games online pendidikan di Kabupaten Bogor dan Indonesia terus meningkat," ungkap Ketua Bidang Pendidikan MUI Kabupaten Bogor, Saepudin Muhtar alias Gus Udin di Cibinong, Bogor, Minggu (12/0/2021) yang dikutip dari Antara.
Tujuh poin tersebut yaitu menambah jam pendidikan agama dan keagamaan, memperbaiki sarana dan prasarana pendidikan di 6.663 lembaga sekolah negeri dan freechip slot online swasta, meningkatkan kualitas 54.189 tenaga pendidik berikut kesejahteraannya.
Kemudian, mempemudah akses pendidikan bagi 1.280.876 peserta didik, memperluas pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) bagi santri salafiyah sebanyak 1.400 yang terdata di Kemenag, membuat payung hukum untuk syarat pekerjaan di Kabupaten Bogor minimal SMP, serta membuat satgas pendidikan.
BACA JUGA :
Sekolah di semua Level PPKM Harus Mempersiapkan Gelar Belajar Tatap Muka Terbatas
Dosen Universitas Djuanda (Unida) itu menyebutkan bahwa tujuh poin penting tersebut juga ia sampaikan dalam Webinar Pendidikan Kader Ulama (PKU) yang digelar MUI bersama Pemkab Bogor pada Sabtu (11/9).
Pasalnya, selain berpengaruh pada indikator makro daerah, pandemi COVID-19 sangat berpengaruh besar terhadap dunia pendidikan. Berdasarkan hasil penilaian oleh Kemendikbudristek pada 16 Agustus 2021, terdapat 204 ribu lebih sekolah di 194 kabupaten/kota yang ada di zona level 4 PPKM tidak menjalankan pembelajaran tatap muka.
"Banyak anak putus sekolah, dalam arti anak-anak terpaksa harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Capain pendidikan Indonesia mengalami penurunan yang disebabkan oleh kegiatan pembelajaran di rumah," kata Gus Udin.
Kondisi kengkhawatirkan lainnya yaitu adanya learning lost yang artinya pembelajaran jarak jauh (PJJ) membuat banyak materi pembelajaran hilang, karena sistem daring banyak kendala.
Salah satu yang menyampaikan aspirasi adalah Lia Nurmala, salah satu kepala sekolah negeri. Dia mengatakan, dirinya berharap agar proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi Covid-19 bisa diberikan fasilitas agar lancar.
"Selain sarana dan prasarana yang kurang memadai juga keadaan orangtua yang masih penghasilannya dibawah rata-rata sehingga kami kurang maksimal melaksanakan program pembelajaran. Tetapi, insha Allah ketika nantinya diberikan bantuan tentu kami akan maksimal menjalankan program ini," ujar Lia saat berdiskusi dengan Erick Tohir bersama 10 kepala sekolah lainnya, Minggu (12/9/2021).
Menjawab aspirasi Lia Nurmala, Erick menjawab akan memberikan bantuan yang terbaik agar proses belajar mengajar berjalan lancar.
"Izin bapak ibu, Saya juga sekolah di negeri jadi tau lah satu kelas 46 orang dan saya juga tentu akan membantu apa yang kita bantu. Tidak sempurna tapi kita berikan yang terbaik," kata Erick.
Selain itu, dia juga menjelaskan saat ini dana tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility atau CSR) BUMN dipusatkan di sektor pendidikan, lingkungan hidup, dan UMKM.
Untuk itu, Erick menekankan pentingnya sektor pendidikan karena dapat menjadi kunci kesuksesan masa depan.

Komentar
Posting Komentar